Minggu, 22 April 2012

MERUBAH KEADAAN HIDUP DENGAN SHALAT & SEDEKAH



DAFTAR ISI

PESAN DARI MU’ALIM KH. SYAFI’I
HADZAMI …………………..
KISAH SATPAM POM BENSIN YANG BERUBAH HIDUPNYA  ……………………………
SHALAT & SEDEKAH ADALAH JAWABAN SEGALA MACAM MASALAH ………………………….

PESAN DARI MU’ALLIM
KH. SYAFI’I HADZAMI


Mudah-mudahan Allah Swt selalu memberikan kita tahun baru, tahun yang gemilang buat kita. Tahun yang segala-galanya berubah. Yang lebih utama lagi kita berubah imannya, berubah Islamnya, berubah amal shalehnya. Insya Allah.
Pembaca yang dimulikan Allah, sesungguhnya segala kesulitan itu ada di genggaman-Nya Allah Swt! Saya termasuk orang yang enggak percaya bahwa kesulitan itu bakal lama hilangnya. Malah, saya termasuk yang meyakini bahwa insya Allah bilamana kita yakin akan keesaan Allah, kita yakin akan kekuasaan Allah, kita yakin akan kebesaran Allah, kita yakin akan pertolongan Allah, kemudian kita mau mendekatkan diri pada-Nya, kita perbaiki apa yang salah, kita tingkatkan apa yang kurang, maka semudah Allah mengganti siang menjadi malam dan malam menjadi siang, semudah itu pula insya Allah kesulitan kita akan hilang!


Katakanlah, Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan" (QS. Az-Zumar:44).


Katakanlah, bahwasanya segala pertolongan itu hanya milik Allah. Segala kekuasaan yang di langit dan di bumi semuanya juga milik Allah. Dan apa saja urusan, semua kembalinya juga kepada Allah. Cuma memang kita ini suka mencari yang sulit. Solusi yang di depan mata, yang sudah dikasih sama Allah, yang kita sudah paham, kita enggak pakai! Segala ikhtiar dunia kita lakukan, tapi yang pokoknya kemudian kita lupakan!
Pada tahun 2003, saya merasa kesulitan sudah di puncaknya. Tahun itu saya merasa sudah enggak akan ada lagi peluang buat maju, dan buat beres segala urusan saya. Tahun itu alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah masih ketemu sama alm. Mu’allim KH. Syafi’i Hadzami. Berangkatlah kemudian saya kesana. Sampai sana kira-kira jam setengah dua. Kita bicara dengan beliau. Kita cium tangannya dengan khidmat dan bercerita tentang kesusahan yang sedang saya hadapi.
Beliau berkata, “Tadi shalat Zuhurnya jam berapa?”
Saya yang datang setengah dua, memang baru shalat di sana.
Lalu saya menjawa, “Barusan!saya barusan saja shalat Zuhur!”
Mu’allim kemudian mengangguk dan dia menjawab, “Pantas, pertolongan Allah jauh bener! Jarak Allah dengan kami seberapa dekat sama awal waktu shalat? Terus kamu shalat Zuhurnya berapa rakaat?”
Saya saat itu tahu, ini kayaknya bukan pertanyaan. Semua juga paham kalau shalat Zuhur itu empat rakaat. Terus saya jawab, “Empat rakaat, Mu’allim...”
“Jadi, tadi empat rakaat shalatnya?”
“iya ....”
“pantes, shalat kamu enggak ada sayapnya!
Shalat Zuhur yang bener itu delapan rakaat. Dua rakaat qabliyah-nya dan dua rakaat ba’diyahnya. Burung burung apa yang dia punya sayap, tapi dia enggak terbang, burung apa coba? Ada dua. Satu, dia tahu enggak dia punya sayap? Kalau dia tahu dia punya sayap, dia enggak pakai dia punya sayap lantaran itu dia enggak terbang, itu namanya burung malas, sudah tahu punya sayap, tapi dia enggak pakai. Yang kedua, dia tahu enggak punya sayap? Kalau dia enggak tahu dia punya sayap. Padahal tuh sayap nempel di dia punya badan lantaran itu juga dia enggak terbang, itu namanya burung bego. Kamu masuk yang males atau masuk yang bego?”
Oh ... telak benar, tuh. Subhanallah
Hari itu saya belajar tentang sebuah dosa, yaitu dosa tauhid. Tidak berdiri la ilahaillallah tanpa Muhammadur Rasulullah. Tidak berdiri yang wajib itu tanpa sayapnya yang sunnah.
Kalau cinta sama Allah, kita kudu ngikut sama rasul-Nya. Begitulah beliau punya warisan buat saya. Sekarang kita sama-sama wariskan lagi nih ilmu yang ternyata ilmu yang sederhana inilah yang sudah membuat negeri saya menjadi hancur! Lihat saja urusan kita! Benar-benar saya saat itu beristighfar kepada Allah, “Ya Rabb,  maafkan saya, solusi  saya kejar tapi diri-Mu tidak saya kejar. Solusi saya cari tapi Engkau Yang Maha Memiliki jawaban tidak saya cari. Jawaban saya buru, tapi Engkau Yang Datang malah saya lalaikan”
Kita punya yang wajib berantakan apalagi yang sunnah! Maka jawaban bagi negeri ini, jawaban bagi saya, jawaban bagi kita semua, kalau memang kita ingin beres kita punya urusan. Ikutin tuh kata ulama, yaitu benarkan dulu shalatnya! Shalatnya lempeng, lempeng tuh urusan. Shalatnya bener, bener tuh urusan. Shalatnya lurus, lurus pula itu urusan.
Di dalam salah satu buku saya, saat itu saya menyaksikan kebesaran Allah.
Masalah selesai dengan sendirinya, Allahu Akbar! Kemarin itu uber-uber itu masalah supaya selesai, yang ada malah bertambah, bertambah dan bertambah itu masalah. Sudah mencari ke mana saja tuh urusan buat diselesaikan? Kita jawab, kemana saja kita mencari. Ya sudah, kalau begitu cari di kamar! Cari di kamar! Kalau di kamar, nanti akan diantar tuh sama Allah.
Saat itu, saya enggak sadar, air mata saya keluar....

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu Perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada waktu siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan Masyrik dan Maghrib, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambilah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzamil: 1-9)
Kita serahkan semua urusan sama Allah! Sudah beres shalat wajibnya, lalu qabliyah dan ba’diyah-nya beres, tambahkan dengan shalat tahajjud! Kemudian jadikanlah Allah sebagai wakil dan pelindung kita. Lalu apa masalah yang ada pada kita? Jika kita punya utang, maka Allah akan ambi alih utang kita. Jika kita belum punya jodoh, sampai saat ini masih belum terbayang siapa pasangan hidup kita, Allah akan mengambil alih dan Dia yang akan mencarikan jodoh buat kita. Kita mencari enggak pernah ketemu, Allah yang anterin.
Kenapa?


Kerana kita serius mencari Allah! Selam ini kita enggak serius mencari Allah. Lihat dari yang wajib! Sampai hari ini kita lihat, dann saya pun melihat diri saya, susah payah  saya membangun bagaimana saya menjadi murid yang baik dan ternyata susah! Satu dari cabang ilmu yang saya jaga, itu sifatnya mati-matian! Makin saya jadi ustadz, makin enggak beres nih  yang mau saya omongin. Apa itu? Yaitu shalat tepat waktu!
Usia kita sudah seperti ini, kenapa kita dilaknat sama Allah Swt?! Karena kita enggak kenal sama Rabb kita, sama Rabbul Jalal yang megang semua urusan.


“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Ali Imran : 26)
Kita enggak kenal tuh sama Yang Maha Mempunyai kerajaan! Mana ukurannya? Sampau umur kita begini, kita masih suka jadi hamba yang seing memerintah Allah! Kita masih suka jadi manusia yang memerintah khalik-Nya!

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yaasiin : 77)
Siapa kita? Kita hanyalah dari setitik air mani! Tapi tiba-tiba kita jadi pendurhaka! Bagian yang paling kecil kita durhaka sama Allah, kita menyuruh Allah menunggu. Kita memberi perintah ke Dia. Perintah apa? Perintah tunggu! Allah kita kerjain, nungguin kita. Ketika adzan berkumandang, “Allahu Akbar Allahu Akbar...” kita nyuruh Allah menunggu dengan berkata,
“Tunggu ya, saya masih di tol!”
“Tunggu ya, saya lagi kerja!”
“Tunggu ya, saya lagi meeting!”
“Tunggu ya, saya lagi siaran!”
“Tunggu ya, saya lagi mengajar!”
“Tunggu ya, saya lagi dagang!”
“Tunggu ya, saya lagi usaha!”
“Tunggu ya, saya lagi di pasar!”
“Tunggu ya, saya lagi belanja!”
“Tunggu ya, saya lagi di dapur!”
Allah kita suruh menunggu! Akhirnya kita jadi begini, nih.
Di mana  masjid yang penuh ketika zhuhur, ashar, magrib, isya, dan shubuh serta di pertiga malam? Itu hanya ada di pesantren! Alhamdulillah, Allah memberi kia bumi ini pesantrennya banyak.
Ketika waktu adzan tiba, kita pada enggak ada. Yang mau ditolongin oleh Allah enggak ada! Akhirnya, ketika adzan berkumandang, “Hayya ‘alash shalah.... hayya ‘alal falah... mari sini shalat, Aku akan berikan kejayaan, Aku akan berikan kemenangan, Aku akan berikan kesuksesan, Aku akan berikan kemuliaan, Aku akan berikan pertolongan,” kita enggak datang! Kita seperti orang-orang yang “qamu kusala” yaitu berdiri seperti orang-orang yang malas.
Bukan main amanah orang tua kira. Apa dia bilang?
“Kalau kamu lagi punya masalah, jegat shalat ashar!”
“Kalau kamu lagi bermasalah, jegat shalat zhuhur!”
“Kalau kamu lagi punya masalah, bagnunlah jam tiga malam, shalat tahajjud!”
“Kalau kamu lagi bermasalah, datang sebelum adzan ke madjid, kamu adzan!”
“Jegat Allah! Jegat! Sambut Dia!”
Begitu Allah datang dan Dia memanggil,  “Allahu Akbar Allahu Akbar...”
Kita jawab, “Labaik.... Allahu Akbar Allahu Akbar...”
Hanya orang yang di dalam masjid-Nya yang menjawab seruan-Nya. Sampai jika ada panggilan di radio, kalau kita bukan di masjid, belum tentu kita bisa menjawab. Lihat saja jika punya TV, begitu adzan berkumandang, apa iya kita menjawab panggilan adzan?!
Maka ketika Allah berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku sudah datang!”
Kita menjawab, “Iya ya Allah, saya sudah disini!”
Shalat Zhuhur dari Sabtu ke Kamis kita selalu telat, hari Jum’at pun kita saksikan seperti hari biasa. Banyak orang-orang di perkantoran, di pabrik, dan di tempat-tempat usaha, yang datangnya itu ketika imam sedang berkhotbah.
Maka nomor satu, coba kita benerin  yang wajib. Kita usahakan bikin malu kita punya diri kalau kita ditunggu sama Allah. Sekali-sekali kita punya hidup nih  sehari, kita yang nunggin Allah. Kita pasang nih  alarm di kita punya hati, “Eh.... sebentar lagi Allah datang, yuk kita ke masjid!”
“Sebentar lagi ashar tiba, yuk kita ke masjid!”
“Sebentar lagi maghrib datang, kita siap-siap yuk!”
“Tanggung, nih, dari maghrib ke isya, mari kita tungguin Allah!”
Pertama, benerin  yangwajib! Yang kedua, kita tegakkan yang sunnah!


Kata rasul, siapa orang yang menghidupkan sunnahku, berarti dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.
Tegakkan yang sunnah!
Kita sempat berkata waktu bertemu Mu’allim KH. Syafi’I Hadzami, “Mu’alim, ‘kan sunnah kalau kita kerjakan dapat pahala enggak kita kerjakan enggak berdosa ….”
Lalu apa dia bilang? “itu sunnah biasa. Kalau sunnah mu’akkadah itu bahaya ditinggal!”
Perhatian saya kemudian terkonsentrasi di situ, dan ternyata memang tidak gampang!.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. Al-Baqarah:45)
Ternyata susah! Kecuali buat  hamba-hamba-Nya yang takut. Saya termasuk orang yang takut. Takut apa? Takut enggak ditolong oleh Allah. Takut enggak berubah nasib. Takut utang enggak kebayar. Maka karena saya “minal khasyi’in” (insya Allah mudah-mudahan), karena saya takut dan ngeri, maka saya jegat terus shalat berjamah, ternyata hasilnya ajaib!
Kemudian yang terakhir sedekah. Kalau lari mau kencang, sandalnya jangan sebelah, tapi mesti dua. Sandalnya mesti dua! Yang sebelah shalat, yang sebelah itu sedekah. Kalau shalat fardu pasangannya zakat, maka shalat sunah pasangannya sedekah. Benerin shalat, perbanyak sedekah! Benerin shalat, perbanyak sedekah! Negeri ini pasti makmur! Allahu Akbar!
Kemudian ilmu yang belum sempurna ini, saya sampaikan pelan-pelan, mulai dari bab sedekah dahulu yang kita sampaikan. Subhanallah, luar biasa!
***

KISAH SATPAM POM BENSIN
YANG BERUBAH HIDUPNYA

Ada seorang satpam di tahun 2007 ditakdirkan sama Allah bertemu saya. Ketika di perjalanan setelah ashar, kita masuk pom bensin untuk mengisi bensin dan buang air kecil. Begitu masuk pom bensin, ada seoerang satpam lari ke kita.
“Assalamu’alaikum, ustad. Masya Allah, alhamdulillah ketemu ustadz.”
“ustad…..” dia terus ngikutin saya ke toilet….” Ustadz, saya mau minta amalan, nih!!”
“Amalan apaan?”
“saya punya hidup enggak ada perubahan, ustadz. Bosen, nih, jadi satpam!”
Saya menengok ke dia, memang seragamnya satpam. Lalu saya Tanya, “Sudah berapa tahun jadi satpam?”
“Tujuh tahun, ustadz”
“Nah, itu betah namanya.” Kita bilang,
“Ya teruskan saja! Ada gajinya enggak?”
“Ada, ustadz.”
“Berapa gajinya?”
“1,7 juta!”
“Eh….1,7 mah besar! Satpam mana ada 1,7 juta, besar banget tuh!”
“Ya ustadz, tapi satpam, ustadz”
“ya sudah, kalau mamang itu jadi masalah buat ente, sebentar saya ke toilet dahulu.”
Di toilet saya berpikir, ya Rabb, kalau memang saya mesti ketemu sama orang ini, ya Rabb, jangan sampai dia terlepas. Nawaitu saya harus sepesang, nih, jalan berdua, shalat sama sedekath.
Sudah kita berdoa dalam hati, mudah-mudahan satpam ini takdirnya berubah. Bukan lantaran dia bertemu saya, tapi lantaran dia mengamalkan amalan yang saya amalkan. Amalan ini adalah amalan sederhana, tapi mustajab, yang diwariskan  oleh para ulama. Hidup ini gampang aja, enggak usah memanggil konsultan dari luar negeri! Enggak usah! Kita bikin aja shalat Zuhur penuh (dengan shalat rawatib), ashar penuh, maghrib penuh, iya penuh, shubuh penuh, insya Allah beres urusan kita!  Karena Allah-lah yang mengatur siang dan malam.
Lalu kita Tanya si satpam, “Mas …” pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaa Mu’alim KH. Syafi’I Hadzami, dan setiap konseling pun saya selalu bertanya demikian, insya Allah. Saya bertanya, “Sudah shalat Ashar belum?”
“Belum, ustadz!”
“Masya Allah, sudah jam setengah lima, nih!”
“Memang, Ustadz, jadi satpam susah shalat tepat waktu”.
“Dulu bagaimana?”
“sama!”
“eh …. Dengar ya, lu telat 2 jam sehari setiap waktu dikalikan 5 jadi 10 jam lu telat. Orang lain sudah melangkah 10 jam. Lu masih di tempat. Orang lain sudah lari 10 meter, lu masih ditempat. Itu 10 jam sehari. Terus kalau sebulan, 300 jam. 300 jam itu 12,5 hari. 12,5 hari dikali 12 bulan  = 150 hari. 150 hari itu berapa bulan? Bulan. 5 bulan dikali 7 tahun = 35 bulan. Memang ente nih hamper 3 tahun telatnya. Itu juga para pembaca yang dirahmati Allah, yang menjadi jawaban kenapa kita punya anak atau punya adik lulus tahun 2006 baru kerja tahun 2007 lewat! Kita hitung, kuliah 4 tahun. Setiap tahun 5 bulan dia telat dikali 4 = 20 bulan. 20 bulan itu = 1,8 tahun. Baru setelah itu dia mendapatkan pekerjaan.
Mungkin ada yang berkata, “Ah Ustadz, saya punya keponakan malah enggak shalat tapi dia langsung kerja!”
“Iya memang, tapi bapaknya marbot masjid”
Allah memberi dia keutamaan karena memakmurkan masjid, dan anaknya ini enggak ada rezekinya. Rezekinya itu dari Allah, sebab apa??  Kita lihat firman Allah swt!!

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaaha:132)

Urusan rezeki itu kaitannya sama shalat doing! Bereskan shalat dan bersabar atasnya, Allah tidak meminta rezeki tapi Dia Yang Memberi Rezeki.
“Nah, benerin shalatnya, sekalian sama qabliyah dan ba’diyahnya” saya jelaskan, dah, tuh, pelan-pelan sama dia.
“Siap, Ustadz, beres!”
Hati saya jadi seneng. Kalau ibarat sepasang sandal, yang sebelah sudah beres. Berarti tinggal yang sebelah ‘kan? Yang sebelah lagi apa? Sedekah!
“ya sudah, sekarang tinggal sedekahnya!”
Mendengar sedekah belum kita jelasin, sudah angkat tangan si satpam.
“Ustadz, saya yang shalat dulu deh, yang sedekah nanti saja!”
Sampai enggak dia kalau shalat doing yang dia benerin? Sampai! Tapi jalannya hanya ibarat satu kaki. Berat rasanya, kecuali dia istiqamah. Sampai juga akhirnya, tapi berat kala enggak didorong sama satu lagi, yaitu sedekah. Coba kita lihat, pasangannya shalat TAhajjud juga adalah sedekah!

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[1193] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan(QS.as-Sajdah:16)
Kalau lagi sulit, jauhkan pinggang dari tempat tidur! Mau ngapain? Kita bangun malam tuh dengan penuh rasa harapan. Setelah itu,  kita sedekah.
Maka saya bilang, “Ente kalau mau berubah cepat, harus sedekah!”
“Apa yang harus saya sedekahkan, Ustadz!”
“Coba sedekahkan gaji Ente yang 1,7!”
“Ya, sudah habis, Ustadz!”
Saat iyu pembaca yang dirahmati Allah, kisah ini yang terjadi tanggal 18 Januari 2007 enggak masuk di akal di saya. Masa isya baru tanggal 18 tuh  duit 1,7 juta sudah habis, kecuali jika dia tukang main judi! Masa iya gaji dia 1,7 juta di tanggal 18 sudah abis, kecuali jika dia punya istri dua!
“Istri lu berapa?”
“Satu!”
“Lho, kok gajinya cepat habis?”
“Ane kredit motor, Ustadz?”
“Berapa duit, tuh, kredit motor?”
“Sembilan ratus ribu!”
“Ya... tinggal delapan ratus...!”
“Ya sudah, motor lu siapa yang lu sedekahin!”
“Ya, Ustadz, pahit amat!” kata si satpam.
“Yang lain dah, Ustadz?”
“Ya sudah, kantong Ente ada isinya enggak?”
“Sudah enggak ada, Ustadz!”
Saya sudah janji sama punya Rabb. Ya Rabb, kalau memang dia tangkapan saya, maka jagnan sampai terlepas. Shalat dia sudah mau tepat waktu sama qabliyah dan badiyah-Nya. Jangan sampai dia enggak sedekah. Memang sudah niat, nih, enggak boleh! Kita lihat jamnya enggak ada. HP-nya juga enggak ada! Waduuuuh, apa lagi, nih.
“Sudah...” saya bilang, “Sudah, motor Ente saja, tuh! Insya Allah, dah, naik Ente... naik, betul!”
“Enggak bias, Ustadz! Ane enggak nyohor lagi nanti!”
Lalu saya berpikir. Allah memberi jawaban ke saya. Jawaban yang belum pernah saya sampaikan ke orang-orag. Saat itu, apa jawabannya?
“Begini, Ente ‘kan kerja sekarang tanggal 18 sudah habis gajinya. Terus, apa yang terjadi kalu tanggal 18 sudah habis?”
Apa jawaban dia, “kas bon!”
Nah, ketemu, nih! Ketemu saya bilang.
“Ya sudah, silakan kas bon, ane tungguin. Tapi kalau kemarin Ente kas bon untuk menyambung hidup, sekarang Ente kas bon untuk sedekah! Enggak bias nawar. Ente jadi sedekah, Ente berubah!”
“Oh... insya Allah, ya Ustadz.”
“Ya, kalau Ente insya Allah, kas bon penuh, 1,7 juta!”Garuk-garuk dia.
Maka biar tahu masyarakat Indonesia, bahwasanya begitu mudahnya merubah nasib! Gaji dia 1,7 memang besar, tapi dia kerja 24 jam. Pantas gajinya 1,7 juta, karena dia kerja 24 jam. Kenapa dia gajinya 1,7 juta, karena dia tinggal di mes sama bosnya sekalian menjaga pom bensin. Tapi, lihat Allah mengubah dia punya takdir! Bismillah, dia berdiri dan dia berangkat ke bagian keuangan. Saat itu, “Masas salamah (semoga selamat), saya bilang.
“Ane pamit dulu, karena mesti mengajar di Jonggol. Tapi kalau ada apa-apa, kasih saya laporan, ini nomor HP ana. Kalau Ente jadi naik, kabari ane. Kalau Ente sudah tos-tosan shalat, tos-tosan sedekah, tapi masih enggak naik juga, maka sudah takdir Ente, tuh, jadi satpam, mau diapain lagi.”
Akan tetapi, sesungguhnya Allah tisak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Enggak mungkin, kata Allah!
“Laporan, Komandan, saya minta izin mau kas bon!”
“Ya sudah, tulis!”
“Ini bukan sembarang kas bon, dan, ini kas bon penuh, 1,7 juta!”
“Buat apa lu kas bon 1,7 juta?”
Ditanya buat apa, bingung dia.
“Iya... buat apa ya...?”
Msa iya dia ngomongin ingin merubah nasib dengan sedekah. Saya memang sering diomongin sama orang melulu, “Kalau sedekah mah yang ikhlas!”Tapi saya bilang, nawaitu mah nawaitu sedekah, tapi doanya supaya kaya. Kalau berdoa sih enggak pakai sedekah juga bias kita minta kaya. Nawaitu mah nawaitu sedekah llillahi Taala. Tapi habis bersedekah ada hak berdoa, yaitu minta supaya sembuh, minta supaya jodoh dating, minta supaya anak ada, minta supaya rumah tangga bagus, dan yang lainnya.
“Buat apa lu kas bon 1,7 juta?”
“Buat sedekah, Dan!”
“Buat sedekah???”
“Lu gila ya, tapi terserah dah. Cuma gua sih  bisanya 30% doing. Kalau memang lu mau ngambil 100% lu musti ke atas!”
Diantarlah olehnya, katanya habis ketemu Ust. Yusuf.
“Sama si Ustadz dianjurkan untuk bersedekah. Katanya dengan bersedekah orang bias berubah nasibnya!”
Apa kata si pemilik pom bensin, “kasih saja! Saya ingin tahu, benar enggak si Ustadz. Kasih dah! Kalau sampai dia kas bon lagi, berarti dia gagal. Sudah, bagi saja!”
Dikasihlah 1,7 juta. Pembaca yang dirahmati Allah, tidak sadar si satpam, teman-teman sekantornya termasuk komandar dan pimpinannya memperhatikan orang ini. Semoua orang melihat, bahwa orang ini sebelum adzan selalu sudah ada di masjdi. Tapi orang ini pun melihat, begitu hebatnya dia menjaga waktu shalat, ternyata di ujung bulan motornya di jual.
Pembaca yang dirahmati Allah, setelah ini satpam diperhatikan sama teman-temannya, ternyata bukannya dia malah naik, tapi dia malah menjual motor. Sebaian teman-temannya nyukurin, “Yah, urat miskin pake ingin kaya, enggak ada judulnya!” Si satpam yang memang enggak sadar diomongin santai saja dia.
Tibalah kemudian saatnya masuk bulan Februari minggu pertama, minggu kedua, minggu ketiga, minggu keempat, waktunya gajian. Yang lain pada gajian dan ada yang kas bon, si satpam ini minggir. Lalu dipanggil oleh si komandan,
“Eh... sini! Bagaimana kabarnya, tuh, si Fulan? Enggak maju buat kas bon dia?”
“Malu kali dia.”
“Coba tolong panggil!”
Dipanggillah dia, “Kita sudah seperti keluarga. Ustadz Yusuf boleh ustadz, tapi dia bias saja salah. Enggak ada sedekah itu! Kita ingin begini, kita ingin begitu, sedekah mah karena Allah! Maka enggak apa-apa kalau Ente mau kas bon lagi. Kas bon saja silakan!” kata si pemilik pom bensin.
Lalu si satpam senyum, “Kas bon untuk apa, Pak?”
Lho, bukannya situ enggak punya duit?”
“Oh... duit saya lagi banyak, pak!”
Tiba-tiba komandanya nyeletuk, “Iya, Pak, dia habis jual motor!”
Boleh dicoba nih  ilmu. Yang sedang membaca buku ini. Jangan lagi ada kantong yang ada isinya. Semua keluarkan. Kita malu sama tuh satpam! Si satpam saja bias sedekah penuh 1,7 juta, masa kita enggak bias! Jangan mau kalah!.
Si satpam tersenyum, lalu apa dia bilang, “Oh... pantas teman-teman saya pada nyengir kuda sama saya. Rupanya menyangka saya kehabisan duit lantas saya jual motor. Sebenarnya begini ceritanya... “Waktu Ust. Yusuf dating, saya sudah tahu kalau dia itu mulutnya mulut sedekah. Saya sudah terima risiko. Tapi saya waktu iut maju sebab saya enggak punya apa-apa, jadi aman. Tapi tanpa diduga Ust. Yusuf minta motor saya. Saat itu saya enggak berani menyedekahkan motor saya. Kenapa? Karena kebesaran! Bagaimana kalau enggak dikabulkan sama Allah, repot jadinya. Sampai akhirnya Ust. Yusuf kemudian menyuruh saya untuk kas bon. Kalau yang kemarin kas bon untuk menyambung hidup, yang sekarang kas bon untuk merubah hidup. Bismillah, saya jalan. Saya pasrah sama Allah...!

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.. (QS. Al- Baqarah:245)

Siapa orang yang menjamin ke Allah, maka Allah akan ganti orang itu dengan berlipat-lipat kali banyaknnya.
Dia maju untuk sedekah 1,7 juta, dai bingung mau bagi kemana. Lalu dia bagikan saja kepada yang membutuhkan, kemudian dia lapor sama istrinya, “Alhamdulillah, Ma...”
“Alhamdulillah apa?”
“Alhamdulillah, habis dah, kita sudah enggak punya gaji! Kas bon juga sudah enggak ada, dah!”
Istrinya bengong, “Bagaimana nasib kita, Bang?”
Terus, dalam keadaan bagaimana-bagaimana (bingung), ada SMS masuk yang menyuruhnya pulang kampong dalam waktu kurang dari lima hari.
Rupanya Allah mengganti dia punya sedekah. Yaitu 10,5 kali lipat. Kenapa saya bilang 10,5? Karena sedekahnya yang 1,7 juta diganti oleh Allah menjadi 17.500.000,- Apa pasal? Ketika dia pulang ke kampong karena dia memang disuruh pulang, tiba-tiba ada satu sertifikat tanah yang namanya nyangkut ke nama istrinya. Istrinya diminta untuk tanda tangan. Enggak tahu enggak apa, oaring ini dibagi. Berapa baginya? 35 juta! Yang separo untuk calo, yang separo but nih orang 17.500.000,- begitu pulang, dia terharu. Dia terharu sama Allah menggantinya 17.500.0001 “Bagaimana kalau kemudian kita, Ma...? begitu kata si satpam, “Kita sedekahin nih motor...!” Lho, iya...

         “  Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfaal:2)

[594]  Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
[595]  dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
Apanya yang bertambah? Imannya!
Kata si satpam. “Sedekah 1,7 saja jadinya begini, bagaimana kalau kita sedekahin motor!”
Ini namanya “zaadat-bum ii-maanaa” (tambah dia punya iman). Lalu, dia berangkat nih ke yang lebih berhak untuk pergi haji. Siapa orang itu? Yaitu ibu dari istrinya.
“Mak, mau enggak kita berangkatin haji?’
“Dari mana lu  punya duit, lu  saja masih utang sama emak!”
“He… he… emak enggak tahu, kita baru pulang nih bawa duit 17,5 juta. Saya ambil 5 juta buat saya punya hidup sampai akhir bulan. Tapi masih ada sisa 12,5 juta…”
“Ya, ‘kan masih kutang ‘tuh?!”
“Iya, tapi saya masih punya motor. Motor ini akan saya jual sebagai sedekah saya ke Emak, buat Emak pergi haji…!”
Subhanallah, mabruk…mabruk…mabruk…! Apanya yang mabruk? Dia berubah di bulan Maret! Di bulan Januari dia mengeksekusi daia punya sedekah kas bon itu, di bulan Februari dia eksekusi dia punya sedekah motor. Dibulan Maretnya, ia menjadi tenaga keuangan. Apa sebab? Karena dia adalah S1 Akuntansi. Kok bisa sarjana akuntansi nyemplung jadi satpam? Ya, rupanya shalat dia berantakan jadinya jika shalat berantakan!
Begitu takjubnya nih  dia punya komandan, kemudian dicari tahu riwayat nih orang. Begitu dotengok, siwayatnya S1 Akuntansi dan tempatnya bukan disitu. Dia dipindahkan ke bagian keuangan. Waba’du, yang saya dengar gajinya 2,4 juta dan kerjanya Cuma 8 jam sehari, normal karyawan kaya orang-orang kebanyakan, barakallah.


SHALAT & SEDEKAH ADALAH JAWABAN SEGALA MASALAH
Maka pembaca yang dirahmati Allah, ayo kita benerin shalat kita mulai hari ini dan sunnah-sunnahnya, serta enggak ada lagi tahhajud yang kita tinggal. Mulai malam ini, enggak ada witir yang kita tinggal. Mulai besok, enggak ada shubuh yang enggak kita jabanin di masjjdi, kita jabanin di shaf yang pertama kalau perlu. Kita tebus kita punya dosa di hari-hari yang lalu, yang hari ini kemudian kita sedekahkan apa yang ada. Nanti malam kita shalat Tahajjud, kita niatkan sama istri kita. “Ma, kita masih punya tanah. Ma, kita masih punya ruma. Ma, kita masih punya mobil. Ma, kita masih punya motor, maka kita belah, dah. Kita sedekahkan semua, kita enggak berani. Kita belah saja, dah, separo. Bismillah!”
Masa si satpam saja bisa berubah kita enggak berubah! Semua orang punya masalah, insya Allah sedekah itu adalah jawaban dalam segala masalah. Mudah-mudahan yang bersedekah kita doakan utangnya dilunasi Allah, umurnya dipanjangkan Allah, segala kesusahannya Allah angkat dan digantikan kemuliaan. Yang belum punya jodoh Allah kasih dia jodoh. Yang belum punya anak dia kasih dia punya anak. Insya Allah kita trima ini kita punya nasehat. Karena ini adalah doanya malaikat Jibril As setiap pagi. Rasulullah saw bersabda,


‘Tiadalah suatu hari, melainkan pada pagi hari ada dua malaikat yang turun, yang mana shalat salah seorang dari malaikat itu berdoa, “Wahai Allah, apabila ada orang yang berinfaq, maka berilah ganrinya.” Malaikat yang satunya berdoa, “Wahai Allah, apabila ada orang yang pelit (tidak mau berinfaq), maka berikanlah kebinasaan pada hartanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. al-anfaal:2)

[594]  Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
[595]  dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar